Selasa, 03 April 2018

Disfungsi Regulasi Dana Desa

             Oleh: Yohanes Ola Halimaking

Mahsiswa Univesritas Nusa Cendana Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Jurusan Sosiologi
            Anggota Ammapai Kupang




Ditinjau dari sisi Etimologi, Desa berasal dari bahasa Yunani "Deshi" yang artinya tanah kelahiran , tanah asal yang berfungsi sebagai tempat tinggal masyarakat kecil.
  Sejarah mengataka
n bahwa Desa adalah awal mula terbentuknyaasyarakat polituk dan pemerintah yang diawali dari kelompok-kelompok masyarakat yang bermukim di suatu wilayah dengan ikatan keterbatasan atau keteraturan.
Pada masa Kolonoal Belanda terjadi perubahan politik dan pemerintah yang mendasar, yakni kekuasaan.
Pemerinta melakukan tata organisasi desa untuk memepertahankan kekuasaan.
  Pada era Reformasi dengan tuntutan Good Goverrance, nilai-nilai lokal mulai tumbuh dan keterlibatan masyarakat dalam kebijakan desa mulai timbul.
Pada hakekatnya desa merupakan Miniatur dari suatu negara yang memiliki strukut dan fungsi yang homogenis.
Kini dengan hadirnya program Jokowidodo( Presiden RI ) "Membangun Dari Desa" yang menghadirkan Dana Desa yang cukul besar.
Dengan hadirnya program tersebut sangat membatuh desa dalam mengembangkan ekonomi dan masyarakat yang terpuruk dari sebelumnya.
Namun Realita tak seirama dengan harapan yang di impikan justru meningkan rasio kemiskinan di desa.
Kenyataan visual yang di amati selama ini ialah
bahwa orientasi dana desa hanya pada infrastuktur.
Dalam UU Dana Desa sudah menegaskah bahwa  70% dialokasikan pada pembangunan fisik dan 30% nya untuk Pemberdayaan Masyarakat.
Sehingga sangata diharapkan bagi aparatur desa agar bisa mengerti alur dan mekanisme dalam pengelolaan dana tersebut.
Selama ini hanya pembangunan Fisik yang menjadi Prioritas utama, sedangkan Pemberdayaan Masyarakatnya entah kemana.
Banyak Masyarakat yang dibodohkan oleh aparatur dengan sistem yang amburadul,
maka sampai kapanpun kita tidak makmur.
Desa yang merupakan insert dari suatu negra kini menjadi ladang penggarap uang bagi peguasa
yang dengan bermodalkan tipu daya, masyarakat kaum lemah jadi percaya.
Sesungguhnya apabila dana desa dialokasikan dengan baik niscaya kemakmuran akan terjamin.
Solusi yang saya tawarkan:
70% pembangunan fisik tidak bermuara pada satu jenis bangunana (misalnya ; setiap kali anggaran hanya diperuntukan pada jala)
tetapi bagimana caranya agar dana yang dikeluarkan untuk pembangunan tersebut bisa mendatangkan uang yang secukupnya.
Misalnya membuka usaha yang nantinya dikelola oleh desa dll.
Kemudian untuk 30% untuk pemberdayaan masyarakat tersebut dialokasikan pada pos yang pemberdayaan sehingga bagaimana meciptakan masyarakt yang kreatif dalam mejalankan roda perekonomoan di desa, misalnya memberukan pada kelompok masyarakat yang ingin membuka usaha dll.
Ketika aparatur berpukir kreatif ,
Niscaya Desa akan berkembang dari sebelumnya.

(*yoh).
Tentang penulis klik www.yohanes ola himakingblogger.com

Minggu, 01 April 2018

Pesan Rafael Ratu di Hari Paskah 2018

@Lembata  – Hari Raya Paskah 1 April 2018, menjadi hari suci seluruh umat Kristen di dunia. Begitupun umat Paroki St.Maria Bintang Laut Waipukang  yang mayoritas penduduk beragama Kristen.
Seluruh umat Kristiani merayakan hari kebangkitan Yesus sebagai hari kemenangan dan pembebasan umat manusia.

Berbagai suka cita dan ucapan syukur dinaikan kepada Tuhan. Begitupun pesan damai kepada keluarga, sesama dan sahabat.

Meski disibukan dengan pekerjaanya Rafael Ratu atau biasa disapa Rama, menyisihkan waktu menyampaikan pesan Paskah.

Pesan tersebut mengingatkan kita akan makna nilai kebangkitan Yesus.

Menurutnya, janganlah menyia-nyiakan pengorbanan Yesus yang disiksa, mati dan dikuburkan demi dosa umat manusia.

Sebagai umat Tuhan, kita harus bangkit dari keterpurukan, menjadi baru, dan teruslah menjadi berkat bagi diri, keluarga dan sesama.

“Tuhan Yesus mati dan bangkit untuk kita. Jangan membuat pengorbananNYA menjadi sia-sia. Jadilah “baru”, teruslah menjadi berkat bagi sesama. Selamat PASKAH, TUHAN YESUS memberkati,” ujar Rama yang sekarang bekerja sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD) wilayah dampingan Lebatukan, Minggu, (1/4/2018) di Waipukang.


“Semoga Paskah, menguatkan kita dalam melayani Lembata ke arah yang lebih baik,” pungkas Rama , Calon DPRD Kab.Lembata 2019.
(*yoh)

Pesan Rafael Ratu Di Hari Paskah 2018

@Lembata  – Hari Raya Paskah 1 April 2018, menjadi hari suci seluruh umat Kristen di dunia. Begitupun umat Paroki St.Maria Bintang Laut Waipukang  yang mayoritas penduduk beragama Kristen.
Seluruh umat Kristiani merayakan hari kebangkitan Yesus sebagai hari kemenangan dan pembebasan umat manusia.

Berbagai suka cita dan ucapan syukur dinaikan kepada Tuhan. Begitupun pesan damai kepada keluarga, sesama dan sahabat.

Meski disibukan dengan pekerjaanya Rafael Ratu atau biasa disapa Rama, menyisihkan waktu menyampaikan pesan Paskah.

Pesan tersebut mengingatkan kita akan makna nilai kebangkitan Yesus.

Menurutnya, janganlah menyia-nyiakan pengorbanan Yesus yang disiksa, mati dan dikuburkan demi dosa umat manusia.

Sebagai umat Tuhan, kita harus bangkit dari keterpurukan, menjadi baru, dan teruslah menjadi berkat bagi diri, keluarga dan sesama.

“Tuhan Yesus mati dan bangkit untuk kita. Jangan membuat pengorbananNYA menjadi sia-sia. Jadilah “baru”, teruslah menjadi berkat bagi sesama. Selamat PASKAH, TUHAN YESUS memberkati,” ujar Rama yang sekarang bekerja sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD) wilayah dampingan Lebatukan, Minggu, (1/4/2018) di Waipukang.


“Semoga Paskah, menguatkan kita dalam melayani Lembata ke arah yang lebih baik,” pungkas Rama , Calon DPRD Kab.Lembata 2019.
(*yoh)

Sabtu, 31 Maret 2018

Damai Paskah Warga Perhimpunan (AMMAPAI KUPANG)

Semoga dengan kebangkitan kristus membawa damai bagi warga perhimpunan.

 Tuhan Lindungila pergimpunan ini
Jadikanlah salib sengsarahmu menjadi salib keselamatan bagi kami semua
Sebab segalah usaha & jerih payah kami selalu di berkati oleh mu.
Aminnnn....

Realitas Mahasiswa "Zaman Now"

OPINI: Realita Mahasiswa Zaman “Now” 



    Oleh: Yohanes Halimaking “Wahai kalian

 yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun ke jalan demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta”. Lirik yang sudah tak asing lagi bagi mahasiswa – mahasiswa diseluruh penjuru negeri ini. Lirik lagu tersebut memang seakan menggambarkan fungsi dan perjuangan dari mahasiswa, namun apakah hari ini memang seperti itu realitanya? Menurut Knopfemacher (dalam suwono, 1978) mahasiswa merupakan insan – insan calon sarjana yang terlibat dalam suatu instansi perguruan tinggi, dididik serta diharapkan menjadi calon – calon intelektual. Mahasiswa memang menjadi ujung tombak dari suatu bangsa, semakin baik kualitas mahasiswa di suatu bangsa, maka semakin baik pula bangsa tersebut. Namun demikian, sekarang mari kita berbicara peran dan fungsi mahasiswa yang pertama adalah sebagai social control di tengah masyarakat. Peran mahasiswa sebagai social control terjadi saat ada hal yang tidak beres maupun ganjil dalam masyrakat. Mahasiswa sudah seharusnya memberontak terhadap kebusukan – kebusukan yang terjadi dalam birokrasi yang selama ini dianggap lazim. Kemudian, jika mahasiswa acuh dan juga tidak peduli dengan lingkungannya, maka sudah tidak ada lagi harapan yang lebih baik untuk kehidupan bangsa nantinnya. Mahasiswa memang sudah seharusnya menumbuhkan jiwa kepedulian socialnya, dimana mahasiswa harus peduli terhadap masyarakat, sebab mahasiswa adalah bagian dari masyarakat. Kepedulian tersebut bukan hanya diwujudkan dalam bentuk demo ataupun turun kejalan saja, tetapi dengan pemikiran – pemikiran cemerlangnya, diskusi – diskusi, atau memberikan bantuan moril dan juga materil kepada masyarakat serta bangsa. Peran masiswa yang kedua adalah sebagai agent of change yang artinya mahasiswa juga sebagai agen perubahan. yakni bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negeri, kemudian dengan gagahnya mengusir para penjahat serta dengan gagah sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan oleh penduduk setempat. Dalam artian ini, mahasiswa tidak hanya menjadi penggagas perubahan, tetapi sebagai objek atau pelaku dalam perubahan tersebut. Sikap kritis yang positif harus dimiliki dan sering dapat membuat sebuah perubahan besar dan juga membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah serta cemas. Banyak pembodohan serta ketidakadilan yang telah dilakukan oleh pemimpin bangsa ini. Sudah seharusnya Anda berpikir untuk mengembalikan dan juga mengubah keadaan tersebut. Perubahan yang dimaksud yakni perubahan kearah yang positif serta tidak menghilangkan jati dirinya sebagai mahasiswa dan juga Bangsa Indonesia. Peran mahasiswa selanjutnya adalah sebagai guardian of value yang artinya Anda yang sudah dikatakan sebagai pelajar tingkat tinggi memiliki peran sebagai penjaga nilai-nilai masyarakat yang kebenarannya mutlak, yakni menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, gotong royong, integritas, empati dan sifat yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat lainnya. Selain itu juga, dituntut pula untuk mampu berpikir secara ilmiah tentang nilai-nilai yang mereka jaga. Bukan hanya itu saja, Anda juga sebagai pembawa, penyampai, dan penyebar nilai-nilai serta ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari. Namun apakah hari ini kita sebagai mahasiswa masih menjalankan peran dan fungsi kita sebagaimana mestinya, apakah kita tetap menjaga marwah dan identitas kita sebagai garda terdepan dalam kemajuan bangsa? Hari ini kita secara pahit harus mengatakan kita secara perlahan mulai melupakan identitas kita sebagai mahasiswa. Lihatlah sekarang bagaimana mahasiswa yang hanya pergi kuliah untuk pulang, lihatlah lbagaimana mahasiswa sekarang yang hanya untuk mengatakan pendapat harus duduk diam dan gemetaran, lihatlah hari ini mahasiswa yang hanya diam tak bersuara ketika hak mereka dirampas dan dibelenggu oleh pihak-pihak tertentu dan apakah hari ini kita masih layak untuk disebut sebagai “Mahasiswa”. Tidak sedikit pula mahasiswa zaman sekarang yang secara sadar atau tidak terlibat dalam politik praktis yang artinya mahasiswa tersebut hanya dijadikan sebagai “kuda” oleh pihak-pihak yang mencari kepentingan politik dengan melibatkan mahasiswa tersebut yang berakibat mahasiswa zaman sekarang sudah memiliki hubungan dan berinteraksi dengan partai politik yang mana hal itu sudah jelas dilarang di dalam peraturan per undang-undangan. Realitanya kita memang sudah terlalu lama tertidur, melupakan fungsi dan identitas kita sebagai mahasiswa ditengah situasi dan persaingan global yang semakin sengit kita harus bangun dari tidur panjang kita ini dan mulai mempertanyakan kembali apakah kita sudah berbuat sesuatu untuk negeri ini, apakah kita memang sudah menjadi mahasiswa yang sesungguhnya karena kita mau tidak mau, suka tidak suka adalah generasi-generasi yang kelak akan menentukan kemana arah bangsa ini akan dibawa. Pada akhirnya penulis berharap kita semua sebagai mahasiswa dapat kembali menjalankan peran dan fungsi kita sebagai mahasiswa, kita ada untuk bersuara maka bersuara lah jika kita diam maka seluruh orang akan diam, jika kita bersuara maka disanalah hakikat kita sebagai mahasiswa terjadi. Kita ada untuk Indonesia kita ada untuk masyarakat yang kita cintai maka belajarlah untuk mengabdi, memenuhi panggilan negeri. (***)

 Penulis adalah Mahasiswa Universitas Nusa Cendana Fakultas Fisip/Sosiologi.